Monday, October 27, 2008

CONFIDENCE

Saya sering mendengar kisah hubungan cinta yang tidak direstui, antara dua orang yang ‘berbeda’. Baik beda status ekonomi, pendidikan, atau pun beda asal usulnya.

Ini bisa dimaklumi, namun bukan berarti bisa dibenarkan. Dalam budaya kita, seringkali orang memandang orang lain dengan pertanyaan ‘siapa dia’ bukan ‘karya apa’ yang dibuatnya. Ada filsafat yang menyatakan bahwa yang menentukan nasib seseorang adalah keturunannya, asal usulnya, bukan karya-karyanya. Maka semua hal rasanya sudah ada standarnya. Mana yang pantas dan tidak pantas, juga sudah ada aturannya. Lalu semua orang pun berusaha mengejar atau menjadi apa yang dirasakan ‘pantas’.

Maka ‘sudah sepantasnya’ orang keturunan Cina pandai berdagang. Jika ada anak dari keluarga Cina yang tidak suka dagang, malah ingin jadi penyair, pasti akan dianggap aneh. Sama anehnya dengan anak Ambon atau Batak yang tidak pandai menyanyi.

Percaya atau tidak, budaya inilah yang menyebabkan bangsa Indonesia susah bersaing. Jangankan bersaing dengan luar negeri, untuk bersaing di dalam negeri saja masih susah.

Orang yang tidak punya kepribadian akan susah bersaing. Orang ini akan berusaha menjadi seperti orang yang dianggapnya bagus. Seperti halnya sebuah produk, produk tiruan bagaimanapun juga akan susah bersaing dengan yang asli. Produk tiruan akan selalu menjadi kelas dua.

Namun bukan berarti kita tidak boleh meniru. Jepang, yang sekarang menjadi salah satu produsen mobil dunia, juga bukan penemu teknologi mobil. Mereka menirunya dari Amerika. Namun saat Jepang ingin memproduksi mobil, mereka membuatnya sesuai dengan kebutuhan orang Jepang sendiri. Orang Jepang badannya tidak sebesar orang Amerika. Jalan-jalan di kota besar juga tidak seperti di Amerika, yang cenderung besar dan lurus terus. Maka orang Jepang menciptakan mobil yang tidak sebesar orang Amerika. Saat mobil Jepang diluncurkan, produk ini langsung booming di antara orang Jepang itu sendiri. Setelah itu dunia ikut tergila-gila dengan mobil Jepang.

Memang butuh kepercayaan diri yang sangat besar untuk bisa menerima diri apa adanya. Kalau memang dilahirkan sebagai anak istri muda, jangan menganggap diri terlalu rendah. Sebaliknya, bila dilahirkan jenius, tidak usah melihat itu secara berlebihan. Apapun kondisi kita, bisakah itu kita terima sebagai keunikan kita? Orang yang sadar bahwa dirinya unik, akan memiliki kepercayaan diri untuk bersaing.

Sebaliknya, orang yang kurang percaya diri akan susah berteman. Apalagi berteman dan belajar dari orang yang lebih. Apapun kondisi orang lain, seringkali kita lihat sebagai ancaman. Malah bukan sebagai potensi untuk kerjasama. Padahal jika semua orang sadar bahwa dirinya unik, pasti akan lebih gampang berteman dan maju. Karena tidak ada satupun keunikan yang sama di dunia ini.

Sebenarnya banyak sekali krisis dalam hidup yang berawal dari tidak percaya diri untuk menerima diri sendiri. Orang yang cenderung kurang percaya diri juga cenderung menutupi kesalahan. Termasuk ‘kesalahan’ di dalam dirinya sendiri.

‘Kenapa ya, saya dilahirkan di keluarga broken home seperti itu’

‘Duh, jangan sampai deh orang tau saya itu bodoh!’

Saat melakukan kesalahan, dunia rasanya kiamat! Ia lupa bahwa di dalam diri setiap orang terdapat jiwa Buddha. Dengan menyadari bahwa kita punya jiwa Buddha, sebenarnya nggak ada hal yang nggak mungkin. Bahkan ketika kita sudah melakukan kesalahan sekalipun.

Malah justru menurut saya, kesalahan adalah pengalaman yang paling ampuh dalam menjamin kesuksesan. Tetapi sekali lagi, bila seseorang kurang percaya diri, maka cenderung untuk menutupi kesalahan. Termasuk ‘kesalahan’ dalam dirinya sendiri. Jadinya malah tidak pernah maju. Atau saking takut berbuat salah, maka tidak berbuat atau tidak berpendapat.

Orang yang percaya diri adalah orang yang berani percaya pada ‘guru’ yang benar. Guru dalam hal ini bukan berarti guru di sekolah, namun guru dalam kehidupan. Sebaliknya orang yang tidak percaya diri adalah orang yang akhirnya malah mengikuti guru yang salah. Karena biasanya guru yang salah adalah guru yang lebih mudah untuk diikuti. Memerintahkan seratus orang untuk merusak stadion dalam sekejap, pasti jauh lebih mudah dibandingkan meminta mereka untuk membangunnya.

Begitu juga halnya dengan diri kita. Membiarkan diri untuk terus tenggelam dalam krisis kepercayaan diri pasti jauh lebih mudah, dibandingkan harus memaksa diri untuk berubah. Tapi pilihannya, kita melebarkan jalan menuju kehancuran diri sendiri.

source:
http://www.nichiren-shoshu-indonesia.org/article_detail.php?type=3&id=74

No comments: