Saturday, May 3, 2008

PENTINGNYA KEAHLIAN (Ceramah Mbak Aiko)

Hal ini bisa terjadi karena Indonesia menjadi semakin maju dan teratur, sehingga KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) pun semakin sulit dilakukan. Dengan pembenahan ini, maka usaha yang setengah-setengah, yakni setengah legal dan setengah ilegal menjadi sulit dipertahankan. Misalnya masalah kayu, bukannya sulit mencari kayu, tapi kayu menjadi mahal karena untuk mendapatkannya harus melalui jalan legal. Dampaknya bukan hanya kepada para pejabat, melainkan juga kepada para pengusaha. Proyek pemerintah juga telah ditenderkan dengan proses yang lebih terbuka dan fair. Para pengusaha yang ingin mengikuti tender pun harus memiliki dokumen yang lengkap, termasuk NPWP. Artinya, pengusaha pun harus membayar pajak kepada negara, baru bisa mendapat proyek pemerintah.

Dalam kondisi demikian, para pengusaha harus berupaya menilai dan mengukur kekuatan saingan mereka dalam upaya memenangi tender. Mereka harus mempersiapkan jurus-jurus ampuh dalam menghadapi saingannya. Hal ini penting karena pengusaha tak lagi bisa menempel seseorang yang memiliki kedudukan di dalam pemerintah alias mencari backing. Masalahnya, sekarang pun keputusan tidak diambil oleh seorang pemimpin saja, melainkan oleh sebuah tim.

Ada kecenderungan di kalangan umat keturunan Cina yang menurut saya tidak bisa dipertahankan, yakni suka gonta-ganti usaha. Ketika untung yang diperolehnya berkurang, mereka langsung pindah ke usaha lain yang dianggapnya akan memberikan keuntungan lebih banyak. Hal ini berarti memulai sesuatu dari awal lagi. Padahal, untuk membangun sebuah usaha dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. Bila dicermati, orang yang sekarang menjadi konglomerat sekalipun, bukanlah orang kemarin sore. Mereka umumnya telah merintis dan membangun usaha mereka selama puluhan tahun.

Saya bukannya anti terhadap orang yang berganti usaha. Saya setuju bila seseorang berganti usaha untuk menjalankan usaha yang dia senangi. Namun, kalau orang berganti usaha karena mau kaya atau dapat untung besar, saya rasa hal itu suatu kekeliruan. Masalahnya, keinginan tersebut belum tentu terwujud mengingat saingannya pun sangat banyak.

Selain itu, banyak juga orang yang tidak menghitung kemampuan mereka dalam menanggung kerugian yang mungkin terjadi. Mereka tidak mau memulai sesuatu dari pekerjaan-pekerjaan yang memberikan untung sedikit, tapi selalu terobsesi untuk mengerjakan proyek-proyek besar. Akibatnya, ketika kerugian dialami, tak jarang yang bahkan harus kehilangan rumah guna menutupi hutang-hutang mereka.

Memang, kehidupan semakin hari menjadi semakin kompleks. Di kota besar seperti Jakarta, yang tingkat persaingannya sangat tinggi, orang yang tidak memiliki skill (keahlian) akan sulit bertahan. Orang-orang yang masih bekerja sebagai makelar atau salesman, lambat laun mulai kesulitan memperoleh job (pekerjaan) mereka. Sebaliknya, orang yang memiliki skill dan menguasai bidang yang digelutinya akan bertahan dan semakin lama semakin dibutuhkan dan dicari orang.

Saya sendiri merasakan hal ini didalam mengelola EKI (Eksotika Karmawibangga Indonesia, dance company yang dikelola oleh Aiko, Red). Suami saya, Rusdy, juga bekerja di EKI sebagai Direktur Artistik. Dia adalah orang yang memiliki standar kerja yang sangat tinggi, sehingga sering kali dianggap sebagai orang yang terlalu perfeksionis (mengejar kesempurnaan, Red). Dulu, orang merasa enggan untuk meng-hire EKI karena dianggap terlalu rese. Sekarang, kondisinya malah berbalik, banyak orang yang mencari EKI untuk diminta tolong mengarap proyek mereka maupun diajak bekerja sama. Bahkan, Rusdy yang dulunya dianggap rese, sekarang malah dianggap bagai mahaguru yang selalu ditanya, diminta, dan diikuti petunjuknya.

Namun, banyak umat yang tidak mempunyai keahlian (skill) sehingga usahanya selalu naik turun dan jatuh bangun. Suatu saat usahanya maju sekali, tapi di lain waktu tiba-tiba bisa bangkrut dan habis sama sekali. Dan saat hal tersebut terjadi, keluarga pun menjadi hancur berantakan. Banyak ibu-ibu yang juga tidak memiliki skill sehingga ketika usaha suaminya jatuh bangkrut menjadi panik dan mengutuki suami. Seharusnya, ibu-ibu juga memiliki skill sendiri sebagai pegangan mereka, sehingga ketika suami tak lagi mampu memenuhi kebutuhan keluarga, mereka bisa tetap survive (bertahan).

Saya pun melakukan hal tersebut dengan mempersiapkan orang yang akan menggantikan saya, baik di BDI maupun di EKI. Saya memikirkan kondisi BDI bila suatu saat saya meninggal dunia. Saya pun memikirkan kondisi EKI bila suatu saat suami saya meninggal dunia. Saya sendiri tak bisa membuat tarian seperti halnya suami. Oleh karena itu, saya mulai mencari seniman-seniman lain yang bisa mengisi posisi dan kebutuhan tersebut.

Oleh karena itu, EKI dikenal sebagai salah satu perusahaan seni yang paling profesional di Indonesia. EKI juga dikenal sebagai kelompok seni yang tidak mau memakai pawang untuk mencegah turunnya hujan ketika menyelenggarakan sebuah pertunjukan. EKI tidak mau memakai pawang karena percaya pada kekuatan diri sendiri. Sikap inilah yang justru dihormati oleh para klien EKI karena mereka yakin bahwa EKI akan mempersiapkan dan menjalankan pekerjaan tersebut dengan sungguh-sungguh. Memang, orang yang mau bekerja keras seperti itu tidak lah banyak. Tapi, bila kita berani menjalankan hal ini dalam bisnis yang kita geluti, maka tak diragukan lagi usaha mereka akan sukses dan berkembang. (ASR)

dikutip dari article-kolom topik-01.02.2008

No comments: